Senin, 04 Juni 2012

Tugas Akhir


Nama : Ice Trisna Wati
NIM    : 2009112054
Kelas  : 6.b


Takdir Itu Pilihan Tuhan

Perang pedang dan kuda
Menyair padang luas itu dunia
Musuh bersiap menghunus jawabnya melawan
Darah tumpah menjadi lautan

Kertas pena dan tinta
Menggambar melukis dan menulis
Semua itu menggores tentang kehidupan
Dan jawabannya itu adalah pilihan

Hidup dan mati
Jiwa ataupun raga
Itu bukan pilihan
Itu kehendak Tuhan

Rambut ikal keriting ataupun lurus
Tubuh ramping gendut ataupun cungkring
Mata bola tajam ataupun sipit
Keturunan Jawa Batak Sunda maupun Sumatera

Bedebah dengan masalah
Itu hanya cobaan
Sulit mengerti hidup saat hidup terasa sempit menghimpit
Sabar?
Tuhan tak melihatmu dengan mata sipit
Jika pilihannya harus perang
Jika pilihannya adalah takdir
Jika pilihannya harus memilih
Satu hal yang aku & kau tau

Kebaikan itu bukan pilihan namun kewajiban
Aku menyerah Tuhan atas takdirmu







Nama : Ice Trisna Wati
NIM    : 2009112054
Kelas  : 6.b

Tikus Kepala Hitam

Nama lelaki itu paulus. Mirip nama orang suci salah satu agama. Berhubung pekerjaannya tak mendukung kemansyuran nama yang disandangnya, maka dia lebih sering dipanggil paul. Mungkin bisa dikonotasikan sebagai bodah, bloon atau apalah!!!
Dia bekerja sebagai kacung merangkap keamanan di kantor satmana. Sejak mengajukan lamaran kepada suk, sang lurah, dia sudah diwanti-wanti agar menjadi kacung teladan, serta petugas yang mengamankan seluruh kantor dari para tikus kepala hitam.
“ kau tahu kan, sekarang banyak tikus berkepala hitam di kantor ini”, kata suk kala itu. Paul tersenyum. Dipikirannya, pandai juga seorang lurah seperti dia berkelakar. padahal paul beranggapan, ketika pertama kali mereka bertemu, suk adalah lurah yang pelit senyum dan doyan marah. Suk berkumis, juga berbibir tebal. Tapi paul salah, penampilan tak menunjukan jati diri seseorang.
Kehadiran lelaki yang satu ini menjadi kacung dikantor kelurahan, tak hanya banyak membantu kelancaran operasional. Termasuk juga kelancaran mulut-mulut karyawan, terutama perempuan, untuk tertawa lebih lebar dari biasanya. Dia menjadi bahan banyolan, bahkan cenderung olok-olokan. Tapi bagi paul, membuat orang tertawa adalah pahalah. Kan lebih baik ketimbang membuat mereka manyun setiap hari, yang ujung-ujungnya menjadi musuh.
Paul ingat pesan suk beberapa bulan lalu. Selain kacung, dia juga merangkap sebagai petugas keamanan. Maka meski suka dijadikan bahan banyolan karyawan, dia tetap memcermati seorang demi seorang. Apa saja yang mereka bawa pagi-pagi, dan apa yang dibawah pulang ketika senja. bahkan gerak gerik mereka selama dikantor kelurahan selalu dalam pantauan paul. Suk menjadi senang. Dia berharap tak ada tikus kepala hitam lagi berkeliaran di kantornya. Bila tidak, misalnya ada satu atau dua orang yang berlaku seperti tikus, alangkah malunya suk. Bisa-bisa dia di berhentikan secara tidak hormat, apabila petugas pemeriksa dari kecamatan melakukan sidak dan mendapati kantor suk telah dikacaukan tikus berkepala hitam.
Paul merasa lega, berbulan dia bekerja dikantor itu, tak ditemukannya tingkah pola karyawan yang mengindikasikan sebagai tikus kepala hitam. Hingga disuatu hari , karyawan baru datang. Seorang perempuan berusia sekitar duapuluh lima tahun. Berbadan langsing tapi berpantat dan dada berukuran jumbo, paul serasa berada ditaman bunga ketika sedang berpapasan dengannya . wangi bukan main perempuan itu, hingga karyawan laki-laki sampai tak betah alpa. Mereka selalu epat masuk kerja pulang setelah istri mereka menyuruh pulang.
Dari perasaan kagum, dan mungkin cinta, lambat laun syakwasangka paul terhadap perempuan itu meyeruak. Dia heran, setiap pulang kerja perempuan itu selalu menyempatkan diri kelemari logistic, ketika paul mengintip ternya ia mengambil puluhan lembar ketas HVS dari lemari itu. Saat berpapasan dengan paul sambil menenteng kertas-kertas itu ia berkata” bapak’ (maksudnya suk) menyuruh saya melemburkan tugas dikantor dibawah kerumah, pail hanya terdiam. Karyawan yang rajin, meski setauh paul seluruh karyawan senior dikantor itu selalu menyelesaikan tugas dikantor, tak sampai dibawa kerumah. Pekerjaan dikantor harus diselesaikan dikantor, kalaupun tidak selesai masih ada hari esok. Cukup jauh juga dia mengekori iis perempuan itu disapa, setelah menumpang becak, perempuan itu berenti didepan sebuah warung, tepatnya tokoh kecil. Ada apa dia berhenti didepan toko alat-alat tulis? Batin paul, aha, titik terang mulai datang! Dia pasti menjual kertas HVS dan pena kantor kelurahan di toko itu. Tapi tiba-tiba ada anak kecil yang keluar dari dalam dan memenggil iis dengan sebutan mama. Paul melihat papan merek yang tertempel didinding bagian atas toko “ Toko Iis”.
Jiwa patriot paul muncul, barang-barang yang dicuri iis tak hanya milik kantor kelurahan, melainkan milik kantor kecamatan, milik kantor provinsi, milik kepresidenan dan milik rakyat.
Maka pagi-pagi ketika hanya suk dikantor selain paul tentunya, paul langsung menerobos masuk keruangan sang lurah . pintu ditutup, dikunci rapat-rapat, suk yang tenga membaca Koran heran, matanya melotot kepinggir meja. Maksudnya, dimana kopinya??
“Maaf, pak! Belum sempat membuat kopi, ini ada berita penting.”
Lebih penting apa dari kopi ku? Suk geram.
Ada tikus berkepala hitam dikantor kita pak!
Tikus berkepala hitam, Suk melemparkan Koran pagi kemeja. “siapa”?
“iis”! jawab paul tegas. Suk hanya menggumam, kemudian duduk kembali kebelakang mejanya sambil membaca Koran pagi. Seolah tak terjadi apa-apa. “ dia suka maling kertas HVS dan pena pak!
Mungkin dia memang perlu kertas, “pena” kejar paul kalau tak memakai pena bagaimana bisa menulis?
Tapi dia hampir tiap har membawa barang-barang itu pak! Suk merengut. Dilihatnya lagi sudut meja. Tapi paul tak peduli . menangkap tikus kepala hitam lebih penting dari pada secangkir kopi!
“ ah, hanya sedikit. Mungkin untuk mengerjakan tugas kantor. Suk melotot, buatkanlah kopi saya! Kau ini kacung belagak Interpol pula.
Sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit . Negara bisa ambruk pak, keluhnya. Suk terdiam, bukan kan saya selain kacung bapak rangkapkan sebagai petugas keamanan? Lanjutnya.
Suk cuek bebek. Karena kesal tak ditanggapi sang lurah, paul berkoar kekaryawan lain. Bahkan di menceritakan lebih rinci, karena kemungkinan iis menjual barang-barang invertaris kantor itu. Iis mempunyai toko alat-alat kantor.
Suasana menjadi heboh, bahkan sampai ketelinga iis, juga ketelinga suk. Tak lebih lama hari berselang, paul di panggil keruangan kepala kelurahan alias suk. Lelaki yang sekarang kelihatan begitu menyeramkan, menyerahkan paul sebuah amplop.
“ ada apa pak! Isi amplop ini mau difotokopi?
Tidak kau baca saja isinya! Geram suk. Paul menyobek pinggiran amplop. Kemudian bola matanya hampir keluar dari cangkangnya. Paul diberhentikan secara tidak hormat.
Apa salah saya pak? Kejar paul.
Kau mempermalukan kantor kita seakan tak bersih.
Tapi emang saya menemukan tikus kepala hitam dikantor ini!
Kau terlalu cepat mengambil kesimpulan, sudah keluarlah!
Bukan main kecewanya hati paul, dia berjalan terseok-seok keluar kantor kelurahan. Dia membayangkan anaknya yang ingin mndaftar sekolah di SMP Negeri. Ah dari mana paul memproleh uang pangkal demi sekolah anaknya itu?
Sepuluh hari setelah pemecatannya, paul terpaksa bekerja sebagai pemulung. Dia bekerja mengenakan topi, dengan mulut ditutup saputangan. Selain menghindari bau sampai ia juga ingin menyamarkan jati dirinya. Masa petugas kelurahan tiba-tiba menjadi pemulung.
Paul melihat toko iis bersama kawannya. Saat itulah mobil sik berhenti. Suk terburu-buru masuk ketoko iis.
Kawan paul berkata, “enak sekali menjadi lurah, ya! Duitnya banyak. Objeknya banyak. Pantas saja ia berhasil menjadikan iis sebagai istri simpanannya.” Paul terperanjat. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia hanya pemulung.










Nama : Ice Trisna Wati
NIM    : 2009112054
Kelas  : 6.b

Kelicikan Seorang Calon Bupati

Pak Abdullah = Calon Bupati
Bu Jamie = Calon Bupati
Mas Bara = Wartawan Licik
Mas Ahmad = Wartawan Baik
Yanto = Orang miskin
Teh Ana = Warga
Neng Ceuceu = Warga

Disebuah tempat , yaitu kota Badromance akan digelarkan pemilihan Bupati baru. Para calon Bupati saling bersaing dan sibuk mempromosikan dirinya masing-masing. Dan pada pagi itu para kandidat siap untuk diwawancara.

Mas Bara : Untuk ibu Jamie silahkan mempromosikan diri. (di shoot)
Bu Jamie : Baik.. hmm, untuk para war- a.. masyarakat Badromance, saya harap patsitirpasi.. papartisipasinya dalam memilih saya menjadi calon maksudnya menjadi Bupati. Coblok nomor 2 .. pojok kiri atas belok kanan, terima kasih. (nervous)
Mas Ahmad : (bingung) baik terima kasih bu. Lalu selanjutnya silahkan Pak Abdul .
Pak Abdul : Ass, Selamat pagi masyarakat Badromance. Calon saja tidak cukup bagi saya. Menjadi bupati adalah impian saya. Memakmurkan wilayah adalah keinginan saya. Semoga anda memilih saya. Coblos nomor 3 tengah atas kurang 2.
Mas Bara : terimakasih untuk para calon Bupati untuk waktunya dan demi terlihatnya sportifitas antar calon silahkan untuk saling berjabat tangan .

BJ + PA : coblos no 2 , coblos no 3 (berjabat tangan ala panco)

Setelah selesai diwawancarai ada kegundahan didalam hati Bu Jamie karena pada saat tadi berorasi dia merasa orasinya kurang meyakinkan dan bagus untuk masyarakat. Dan timbulah niat licik Bu Jamie yang mengandalkan Mas Bara sebagai wartawan. Dan tidak sengaja Mas ahmad seorang wartawan juga mendegar percakapan mereka.

Mas Bara : (sedang melihat hasil jepretannya)

Bu Jamie : Aduh! Promo saya tadi sangat ancur. Jika seperti itu masyarakat pasti tidak memilih saya. (melihat kepada mas Bara) Hmm Mas! Mas wartawan!!
Mas Bara : Iya saya bu, ada apa?
Bu Jamie : saya ingin punya bisnis denganmu. Upah pasti terjangkau, berminat?
Mas Bara : Oh boleh bu. saya butuh sekali uang untuk istri saya. Syaratnya apa bu?
Bu Jamie : bantu saya agar saya bisa menjadi bupati. Kamu sanggup?
Mas Bara : Hmm.. (nelen air liur) demi istri saya. Saya sanggup bu.
Bu Jamie : saya tidak mau tau caranya bagaimana. Itu terserah kamu, asalkan saya menjadi Bupati. Apa kata dunia kalau tahu saya tidak jadi bupati? Maluu...
Mas Bara : Baik bu. Akan saya lakukan. (tarik nafas)


Di sebuah desa, terlihat para warga sedang mencuci pakaian di sungai dan mengobrol mengenai pemilihan bupati tersebut.

Teh Ana : Neng... neng ceuceu!! Eneng!! (nyuntrungin sampe jatoh)
Neng Ceuceu : Aduh sih teteh. Meuni eksogen. Ada apa atu teh?
Teh Ana : eh nyak si eneng, sst! tong toak atu neng. Rahasia ini teh!
Neng Ceuceu : Rahasia apa teh? Teteh punya pacar ya?
Teh Ana : Bukan atu neng. Itu pemilihan Bupati eneng mau milih siapa?
Neng Ceuceu : Eh itu geura teteh nya. Suganteh apa. Teteh mau pilih siapa atuh?
Teh Ana : Eh neng ceuceu ma! (nyuntrungin sampe jatoh lagi) pan teteh yang duluan. Kumaha neng teh?
Neng Ceuceu : ooh iya maaf atu teh. Gimana ya? Bingung eneng juga.
Teh Ana : Teteh ma suka Bu Jamie ah orangnya cantik.
Mas Ahmad : Eh neng, ass...
Teh Ana + Neng Ceuceu : waalaikumsalam...
Teh Ana : Eh nembeh uih a? Pulang dari mana?
Mas Ahmad : Biasa ngewawancara calon bupati. Nuju naraon ini teh?
Neng Ceuceu : Biasa a, nyeuseuh. Eh aa teh tos ngawawancara calon bupati?
Teh Ana : Gimana atu a, mana yang bagus? Ana teh bingung mau pilih siapa?
Mas Ahmad : Sebenernya Bu Jamie sama Pak Abdul teh sama-sama bagus. Tapi..
Neng Ceuceu : Tapi apa atu a?
Mas Ahmad : aa teh ngga sengaja ngeliat Bu Jamie tadi lagi ngobrol berdua sama wartawan si Mas Bara. Ga tau tah ngomong apa, tapi keliatannya mencurigakan.
Teh Ana : Alah siah, atu eta mah bahaya! Moal milih bu Jamie kalo gitu ma.
Neng Ceuceu : Bentar dulu atu teh. Jangan suudzon dulu, bener ngga a?
Mas Ahmad : iya bener. Tapi tadi bu Jamie pas promo ngga bagus kalo merutu aa mah.
Teh Ana : Tah bisa aja ada hubungannya. Takutnya bu Jamie nyogok warga lewat Mas Bara. Tapi ngga tau juga itu baru perkiraan Ana. Mas Bara teh yang mana?
Mas Ahmad : Ini liat fotonya.. Gini aja atu sekarang ma, jangan dulu berpikiran buruk. Takutnya salah. Aa duluan ya, masih banyak tugas editannya.. ass...
Teh Ana + Neng ceuceu : Waalaikumsalam...

Keesokan harinya, Mas Bara menjalankan aksinya untuk mempromosikan bu Sumarti Sum kepada para warga. Dan salah satu warga yang ia suap adalah orang miskin yang pasti sangat membutuhkan uang.

Mas Bara : Aduh! Warga sini pada kemana ya? Sepi.. (sambil foto2.. cekrek) Astaghfirullah! Apa itu yang hitam?
Yanto : Hideung Mas? Saya yang hideung masih orang bukan jin.
Mas Bara : Oh ndak2! Mas orang asli sunda atau jawa?
Yanto : Oh sanes mas, saya orang arab.. ndak mas bercanda.. saya orang cinta Indonesia!
Mas Bara : (-_______-) iya mas terserah deh. Mas, ngomong2 mas mau ikutan nyoblos calon Bupati kan?
Yanto : ya iya dongs! Maap mas saya emang miskin. Tapi saya gahool ko
Mas Bara : terus mau milih siapa mas?
Yanto : saya bingung mau milih siapa mas! Aduh bingung! Pusing! Pening!!
Mas Bara : Aduh loh ko? Kenapa mas?
yanto : Kepala saya cenat cenut mas. Saya bingung mau milih siapa
Mas Bara : Ko bingung mas? Ngampang ko pilihanya.
Yanto : jelas saya bingung toh saya ndak tau siapa saja calonnya mas.
Mas Bara : (twewewew) --__--. Ndak apa2 mas. Mas pilih no 2 aja. Saya yakin kabupaten kita makmur.
Teh Ana : nengneng, liat deh, itu bukannya Mas Bara yang diceritain si aa tadikan?
Neng Ceuceu : yang tadi ada difoto itu ya? Iya bener itu orang nya.. ayu tangkap atu teh!
Teh Ana : Eh jangan , kita silikidi aja dulu.
Yanto : mau mas! Tapi saya ndak percaya. Takut ditipu saya.. ndak mau mas ndak2
Mas Bara : Mas.. saya bawa uang 500 ribu loh mas.. liat nih tas saya..
Yanto : (tergiur) buat saya mas?
Mas Bara : kalau kamu mau pilih no 2. Tar saya kasih duit ini.
Yanto : gampang mas.. semua.. bisa diatur..
Mas Bara : sip oke deh mas. Ini uangnya..
yanto : makasih ya mas! I’m promise...
Teh Ana : Bang, tadi orang itu siapa ya?
Yanto : saya ndak tau, tadi dia ngasih uang sama saya 5 ribu. Pake syarat coblos2 gitu pokonya.
Neng Ceuceu : coblos apa bang?
Yanto : oh iya ingetin saya ya, nomor 2. Nomor2. Nomor 2.
Para calon gubernur bersiap-siap untuk mengeluarkan isi pidatonya. Untuk lebih meyakinkan masyarakat agar bisa memilih mereka.
Bu Jamie : Ass.. selamat pagi!.. saya sebagai calon Bupati berharap banyak agar anda semua..... dhwfuefegfufytergfhkgfieyftjshgfietfgkjgk7rtfgkjrgf. Terimakasih..

Tepuk tangan...

Pak Abdul : Ass.. selamat pagi!.. saya sebagai calon bupati berharap banyak agar anda semua..... dhwfuefegfufytergfhkgfieyftjshgfietfgkjgk7rtfgkjrgf. Terimakasih.. coblos no 3 tengah atas kurang 2.
Tepuk tangan..

Setelah selesai berpidato, para calon dan wartawan meninggalkan gedung tersebut. Kecuali Bu jamie dan salah satu wartawan yaitu mas bara. Dan mereka tidak tau bahwa Mas Ahmad memata matai mereka.

Bu jamie : Mas, gimana hasilnya?
Mas bara : beres bu! Ibu tenang saja, ibu pasti akan menjadi bupati.
Bu jamie : sip. Ini saya kasih DP nyak dulu.
Mas bara : Dewi Persik bu? (twewewew) Maaf saya sudah punya istri.
Bu jamie : ini DP uang mas... bukan artis.

Dengan rasa yakinpun Mas Ahmad mendatangi Pak Abdul untuk menjelaskan semuanya. Karena mas Ahmad tidak mau ada kelicikan dalam pemilihan bupati ini.

Mas Ahmad : Permisi bapak Abdul, bisa minta waktunya sebentar.
Pak Abdul : oh boleh silahkan duduk. Ada apa mas?
Mas Ahmad : Gini pak, saya mendapat kejanggalan dalam pemilihan bupati ini. Ada yang berlaku curang.
Pak Abdul : Apa???!!!!!
Mas Ahmad : Benar pak! Bu Jamie pelakunya. Dan rekannya yaitu Mas Bara.
Pak Abdul : Bara itu wartawan seperti kamu juga kan? Apa bukti yang kamu punya.
Mas Ahmad : iya Bara itu wartawan juga. Ini pak saya sempat memotret meraka saat berkomunikasi tadi. Mereka sangat terlihat menutupi sesuatu.
Pak Abdul : Jika buktinya hanya ini, publik tidak akan mempercayai sepenuhnya. Dan besok adalah pemilihannya. Lalu bagaimana?
Mas Ahmad : Biar saya selidiki dulu pak. Saya yakin dengan kejanggalan ini.
Pak Abdul : Baik kalau begitu. Silahkan..

Sepulang dari berkerja, Mas Ahmad bertemu lagi dengan Teh Ana dan neng Ceuceu..
Neng Ceuceu : Eh aa, udah pulang?
Mas Ahmad : udah neng. Mau kemana sama Ana?
Teh Ana : ga tau a, bingung. Eh a, tadi kita liat Mas Bara lagi ngobrol sama orang miskin yang tadi. Namanya teh... hmm, si yanto a.
Mas Ahmad : Ngomong apa?
Neng Ceuceu : kayaknya dia lagi nyogok a. Soalnya pas kita tanya Bang Yanto itu bilang Masbara ngasih uang 500 ribu terus bang yanto bilang tolong ingetin nomor 2.
Teh Ana : iya a. Nomor 2 itukan bu Jamie. Apa ngga boleh-ngga boleh, emang bener bu Jamie itu pake cara curang.
Mas Ahmad : Ohh Neng ceuceu. Ana, makasih ya infonya. Aa duluan ya, lagi buru-buru..

Keesokan harinya disaat pemilihan Bupati kota Badromance berlangsung. Keteganganpun dirasakan oleh banyak orang terutama para calon bupati. Semua masyarakatpun memasukan pilihannya kedalam kotak suara..

Teh Ana : Aduh neng! Siapa ya yang bakal jadi bupati kita. Semoga baik amin.
Neng ceuceu : Amin teh. Eneng jadi takut. A Ahmad dimana teh?
Teh Ana : itu jadi Mcnya.
Bu Jamie : Saya yakin siapa yang menag itu yang berhak menjadi bupati. Betulkan Pak Abdul?
Pak Abdul : Betul sekali Bu Jamie. Dan semoga Bupati baru kali ini lebih baik.
Bu Jamie : hhmmm.. dan itu saya Pak Abdul.
Mas Ahmad (MC) : menurut kotak suara yang telah tersedia disini. Yang mendapat voting paling banyak menjadi bupai kota ini yaitu.......... (hah?? bingung) Bu Ja...mi...ee....

Tepuk tangann.....!!!!!!!!!!

Teh Ana : Tunggu!!! (jrengjreng) Intruksi!! Pemilihan ini berjalan tidak sportif. Ada yang bertingkah curang didalam pemilihan ini.
Mas Bara : Kamu cuman wanita desa. Tidak tau apa-apa. semua berjalan sportif ko.
Bu Jamie : Hanya kamu yang tidak memilih saya. Mungkin kamu benci sama saya.
Neng Ceuceu : Tidak. Saya tidak memilih ibu.
(saya juga, saya juga saya juga)
Mas Ahmad : Baik bu Jamie. Mengakulah bahwa ibu sudah bermain curang. Saya punya segala buktinya.
Mas Bara : Sudah bu jamie ibu mengaku saja.
Teh Ana : Diem kamu teh Bara! Kamu juga ikut-ikutan kan, saya teh tau atuh!!
Neng Ceuceu : iya, jadi Bu jamie itu nyuruh mas barakan buat nyogok warga. Nah yang sogok itu bang Yanto.
Pak Abdul : jadi ibu benar melakukan semua kecurangan ini? Sangat licik bu!
Yanto : Baik Bu jamie dan Mas bara. Anda harus saya tangkap. Atas kecurangan dalam pilkada ini.
Neng ceuceu : Ah bang yanto?
Teh Ana : Euleuh! Bang yanto naha kitu?
Mas Ahmad : bang? Bade popolisian?
Yanto : Perlu diketahui. Saya adalah seorang polisi (nyerahin bukti). Saya sengaja menyamar menjadi seorang yang miskin.
Teh Ana : tah! Sudah lah pak polisi tangkap saja!
Mas bara + bu Jamie : dengar dulu. Saya bisa jelaskan. Saya mohon.. jagan tangkap..
Yanto : Ahhhh!!! Diam. Bisa dijelaskan dikantor polisi.
Mas Bara : Bapa atu bapa! Tunggu, aku mau nonton dulu.
Yanto : ya sudah!!!! Saya juga mau kalau gitu.
Neng ceuceu : jadi gimana sekarang?
Mas Ahmad : Jadi. Yang sebenarnya menjadi bupati kabupaten badromance ini adalah...... bapak abdullah...
(we are the champion my friend....)
(tepuk tangan sambil berdiri heboh)
(mas Ahmad berjabatangan dan berpelukan dengan Pak Abdul)

Pak Abdul : Terima kasih akhirnya saya bisa menjadi bupati kabupaten badromance. Terima kasih kepada tuhan yme. Dan kalian semua, tanpa kalian semua kelicikan bu Jamie tidak akan terbongkar. Terimakasih....
Pak Abdullah pun menjadi bupati kabupaten Badromance. Denga penuh percaya diri Pak Abdullah pun memberi jabatan untuk Mas Ahmad. Dan jabatan sekertaris untuk Teh Ana. Tetapi kelicikan Bu Jamie tidak hanya berakhir sampai disini. (jrengjreng) meski dia dipenjara, dia tetap melakukan kelicikannya.

Setelah acara selesai yanto menyeret paksa bu jamie dan bara ke mobil polisi. Dan hingga sampainya di penjara.

Jamie : ih sumpek banget disini, ko bau sih!
Mas Bara : maaf bu, hehe, saya wedduuus!
Jami : haduuuuuhh saya tidak bisa perawatan wajah, spa, apalagi bentar lagi JUSTIN BIEBER konser! Aduh kacau pasti saya ngga bisa nonton (-.-) baraaaa!!
Bara : iya bu? Apalagi? Gara-gara ibu saya jadi masuk penjara kan!
Jamie : eh kamu tidak tau malu!
Sipir : suuutt !! kalian penghuni baru udah ribut aja!!! Ada apa bu jamie?
Jamie : bu sipir cantik. Sini senbentar. saya ingin bisnis, apa ibu mau? Saya kesini bawa kartu kredit sama atm saya. emas juga..
Sipir : hhmmmmm boleh2 terus anda mau apa?
Jamie : tolong dong izinin saya, mau nonton konser Justin Bieber di bali. Jaman gini dipenjara ngga liburan? Gak asik!
Sipir : waaaaahh tidak bisa! Kecuali ibu mau membarnya 300 juta. Mau?
Jamie : ooohh tentu bisa, kamu tidak tau seberapa banyak harta saya ya? Saya turunan berdarah pink!
Sipir : oohh ok! Kalo gitu pasti bisa
Mas Bara : ikuuuuttt..!!
Jamie : (memelototi)

Setelah mereka menyetujui perjanjian itu, akhirnya pada tanggal 23 April, bu jamie diizinkan keluar rutan, dengan alibi menjenguk tantenya yang sakit.
(didalam pesawat)

Jamie : saya sudah seperti selena gomez sepertinya sudah tidak mirip jamie lagi, pasti org2 tidak mengetahuinya.

Ketika itu, bu Jamie sangat menikmati menonton konsernya. Dan disana juga ada pak Abdul dan Mas Ahmad yang sedang refreshing sehabis mengerjakan tugasnya.
Mas Ahmad : (foto2) eh sepertinya orang itu saya kenal. Seperti........ bu jamie [:o] . Eh tapi tidak mungkin, kan dia sudah ada di bui.
Pak Abdul : Suaranya bagus ya!!
Mas Ahmad : Eh pak pak! Liat deh, itu mirip bu jamie ya? Coba liat deh pa!
Pak Abdul : Yang mana? Masa bu jamie ada disini..
Mas Ahmad : yang itu pa, liat geura, ih bapa ya, ngga percaya sama akuh..
Pak Abdul : oh iya... mirip banget! Foto mad foto ahmad! Foto cepet!! Foto foto! Saya bilang foto!!! Buat bukti!
Mas Ahmad : udah bapa sayang! [:*]
Pak Abdul : Telfon Ana! Nanti suruh dia publikasikan foto ini ke media!
(suara telepon)
Mas Ahmad : Haloo...
Teh Ana : halo Mas Ahmad, ada apa toh?
Mas Ahmad : ini Ana, ada bu Jamie lagi nonton konser. Sudah saya foto buat jadi bukti.
Teh Ana : Waduuuh! Bu jamie bukannya di penjara?
Mas Ahmad : Makanya, coba kamu cek ke rutan. Terus tlong publikasikan fotonya.
Teh Ana : fotonya dikirim lewat email aja ya mas.
Mas Ahmad : email Ana apa namanya?
Teh Ana : Anacelaluhbingungtapicayangkaka@yahoo.com
Mas Ahmad : hah?? Panjang amat! Ya sudah nanti saya kirim.

Setelah foto-foto tersebut dipublikasikan oleh Teh Ana. Teh Ana pun segera mengunjungi rutan untuk mengecek keadaan bu jamie.

Teh Ana : Ass!! Bu sipir, bisa saya bertemu dengan bu jamie?
Sipir : oh tidak bisa! Ada perlu apa?
Teh Ana : hmmm, saya mau menjenguk bu jamie..
Sipir : oh bu jamie tidak apa-apa, dia sehat ko. Dia baik-baik saja.
Teh Ana : Tapi bu, saya harus bertemu dengan bu jamie!!!
Yanto : Maaf, ada apa ini? Bu sipir ada apa?
Sipir : ini pak..
Teh Ana : saya mau bertemu bu jamie pak. Tapi bu sipir ini tidak mengizinkan saya.
Yanto : Bu sipir. Izinkan dia masuk!
Sipir : hmmm, tapi pak! Aduh mampus! Ayo bu!!!!!
Teh Ana : Tuhkan bu jamie ngga ada pak polisi. Bu jamie malah berlibur ke bali.
Yanto : apa buktinya?
Teh Ana : ini liat! (foto)
Yanto : bu sipir!!! Apa benar?
Sipir : hmm, anu pak.. hmm anu..
Mas Bara : iya pak! Bu sipir disogok sama bu jamie!
Yanto : ayo bu Ana, kalau gitu kita susuh ke tempat bu jamie.
Teh Ana : baik pak!
Sipir : (mukul2 gitar) aduh ini bahaya!
Mas Bara : bu, dari pada gitarnya dipukul, tak saya maenin..
Sipir : nihh! Ambil saja! (pergi)
Mas Bara : (nyanyi sambil ngegitar) Andai aku ibu jamie.. yang bisa pergi ke bali..
(nyanyi lagu gayus tambunan)

Beberapa hari kemudian...

Mas Bara : nyanyi lagi ah.. andai aku ibu jamie.. yang bisa pergi ke bali..
Teh ana : Gandeng bara!
Mas Bara : L
Mas Ahmad : cepet masukin sel tahanan lagi pak bu jamie nya!
Yanto : Ayo masuk bu jamie! Siap saja anda mendapat waktu tahanan yang lebih lama lagi.
Teh Ana : jangan lupa tuh bu sipir nya.. saruana ieu mah!
Yanto : ibu.. maaf ibu harus jadi tahanan juga!!
Teh Ana : nah! Beres deh! (tos sama mas ahmad)
Yanto : Pak abdul dimana mas ahmad
Mas Ahmad : Pak abdul masih di bali. Masih liburan, lagi refreshing.
Mas Bara : hah di bali? Enak ya ke bali.. aku mau..
Teh Ana : diem kamu teh atu bara2!! Sini mana gitarnya!
Mas Bara : eits bentar dulu, saya mau ngamen..
andai aku bapak abdulloh yang bisa pergi ke bali (nyanyi sambil ngegitar)..

Akhirnya, kelicikan bu Jamie pun berakhir sampai disini. Dan tidak ada lagi suap menyuap yang dilakukan bu jamie. Kota badromance menjadi kota yang sangat tentram, sejahtera, abadi selamanya setelah memiliki bupati seperti bapak abdullah..

Amanat : Jangan melakukan kebohongan, dan kelicikan seperti menyuap. Karena, pada akhirnya perlakuan tersebut pasti akan terbongkar dan mendapat kerugian yang sangat besar.

Tugas Akhir


Nama : WIKA PURI ASTUTI
NIM : 2009 112 070
Kelas : VI/B

CINTAKU PADAMU
Ibu.....
Kau yang melahirkanku
Merawatku hingga kecil sampai dewasa
Mendidikku hingga diriku telah dewasa
Ibu....
Bila aku sakit kau merawatku dengan penuh kasih sayang
Bila aku terjatuh kau mengobatiku dengan kasih sayang
Aku sayang engkau... Ibu
ibu..
telah kupandang wajahmu diwaktu tidur
terdapat sinar yang penuh dengan keridhoaan
terdapat sinar yang penuh dengan kesabaran
terdapat sinar yang penuh dengan kasih sayang
terdapat sinar kelelahan karena aku.
ibu..
hanya doa yang bisa kupersembahkan untukmu
hanya tangisku sebagai saksi
atas rasa cintaku padamu..
Nama : WIKA PURI ASTUTI
NIM : 2009 112 070
Kelas : VI/B

TIGA SAHABAT
Kisah ini terjadi disebuah sekolah yang sangat terkenal bernama SMPN 1 Tunas Bangsa. Disana ada suatu persahabatan yang sangat erat yang bisa mereka sebut dengan 3BG.
Di ruangan kelas yang terdapat berbagai kursi dan meja yang tertata rapi terjadi suatu keributan, yang disebabkan salah satu anggota 3BG.

Aldi : Kenapa ya...., persahabatan 3BG kok sangat erat ? aku ingin persahabatan mereka jadi putus, tapi bagaimana caranya ? (diam sambil memikir sesuatu)
Aldi : Ah…., aku curi saja dompetnya Andin, dan setelah itu aku Taruh saja di tasnya Aulia, Andin dan Audy pasti akan Akan menuduh Aulia.” Terlihat anggota 3BG masuk kedalam kelas tertawa-tawa.
Andin : ( sambil membuka tasnya dan terlihat sedang mencari sesuatu dan wajahnya sangat gelisah )
Audy : Ada apa Din, kok kayaknya gelisah banget ?
Andin : Aduh gimana nih, dompetku hilang.
Aulia : Kok bias hilang, mungkin ada di rumah kamu.
Andin : Nggak mungkin, tadi aku inget kok dompetku sudah Ku masukkan kedalam tasku.
(Tiba-tiba Aldi memotong pembicaraan mereka dengan lagak sok tahu)
Aldi : Aku tahu siapa yang mencuri dompet kamu.
Andin : Emangnya siapa Al ?
Aldi : Dia adalah sahabatmu sendiri yang bernama Aulia.
Audy : Nggak mungkinlah dia yang mencuri dompetku, kamu kok sok tahu banget sih.
Aldi : Ya sudah kalau kamu nggak percaya, kamu geledah tasnya Aulia.
Andin : Maafkan aku Lia, aku harus menggeledah tasmu untuk Membuktikan omong kosongnya Aldi.
Aulia : Ya sudahlah nggak apa ?” Andin dan Audy menggeledah tasnya Aulia dan beberapa lama kemudian dompet Andin ditemukan ditasnya Aulia.
Aldi : Tuhkan bener kataku, Aulia si miskin itu yang mencurinya.
Andin : Kamu kok tega sih Aulia, kalau kamu butuh uang kamu tinggal bilang sama kami, bukan begini caranya, selama kami selalu membantu kamu, tapi kamu kok tega banget.
Aulia : Tapi bukan aku yang mencurinya.
Aldi : Terus kamu tuduh aku yang mencurinya, jelas dompet Andin ada ditas kamukan?
Audy : Dasar, sudah dikasih hati malah minta jantung.
Andin : Mulai saat ini kamu tidak akan jadi sahabat kamu lagi.
Audy : Dasar kau anak miskin. ( sambil menampar pipi Aulia ) Mereka kemudian duduk ditempat mereka masing-masing
Aulia : Ya Allah, cobaan apa yang kau berikan pada persahabatan Kami, apa salah kami sehingga kau memberi cobaan ini, Ya Allah kembalikan persahabatan kami seperti dulu lagi.
Beberapa lama kemudian bel pulang berbunyi, Andin dan Audy pulang bersama tanpa Aulia. Diperjalanan pulang Andin menerima telpon dari Papanya yang berada diluar negeri.
Kring………kring…..kring….
Andin : Hallo assalamu alaikum, ada apa Pa, kok tumben telpon aku.
Papa : Waalaikum salam, Din Papa mau kasih kabar ke kamu, sebelumnya maafkan Papa, perusahaan Papa Disini bangkrut.
Andin : Apa Pa, bangkrut kok bias begitu ?
Papa : proyek yang Papa Buat mengelami rugi yang sangat besar, Jadi Papa harus menjual perusahaan Papa untuk membayar ganti rugi.
Andin : Jadi kita jatuh miskin Pa?
Papa : Begitulah, besok Papa dan Mama akan pulang ke Indonesia, dan kita harus cari kontrakan rumah, karena rumah kita akan di segel oleh bank.
Tiba-tiba Andin memutuskan telpon dengan rasa tidak percaya.
Andin : Ini nggak mungkin. ( sambil membanting HP nya)
Audy : Ada apa Din ?
Andin : Perusahaan Papaku bangkrut dan sekarang aku jatuh miskin.
Audy : Sabar ya.. Din, ini pasti bias kamu lewati kok.
Andin : Audy kamu adalah sahabat aku yang paling setia denganku, tolong jangan tinggalkan aku.
Audy : Ya… nggak mungkinlah aku ninggalin kamu, tidak seperti Aulia yang menghianati sahabatnya sendiri.
Andin : Terima kasih Audy. Tiba-tiba ada motor yang melaju kencang hingga menambrak Audy, untungnya saja Aulia menolong Audy.
Aulia : Awas Audy.( sambil berteriak dan mendorong Audy )
Audy : Kamu nggak apakan Aulia.
Aulia : Nggak aku nggak apa kok.
( Pengendara motor itu kemudian turun dari mobil )
Aldi : Kamu nggak apa kan Aulia.
Aulia, Andin, Audy : Aldi…..
Aldi : Maafkan aku yaaa, aku nggak sengaja.
Audy : Makanya kalau naik motor itu jangan kencang-kencang.
Aldi : Ya.. maafkan aku.
Andin : Ya.... sudahlah nggak apa.
Aldi : Din aku mau ngomong sesuatu sama kamu, tentang masalah tadi di kelas.
Andin : Emangnya ada apa Al.
Aldi : Sebenarnya yang mencuri dompet kamu itu bukan Aulia, melainkan aku.
Andin : Apa Aldi.
Aldi : Aku iri dengan persahabatan kalian yang sangat erat, makanya itu aku mencoba untuk merusak persahabatan kalian, sekali lagi maafkan aku.
Andin : Jadi bukan Aulia yang mencurinya ?
Audy : Jadi persahabatan kita bersatu lagi dong.
Andin : Bersahabatan kita akan selalu abadi sepanjang masa.
Aulia : Sampai akhir hayat menjemput kita, persahabatan ini Akan tetap bersatu... bersatu.
Andin : 3BG.
Audy : Three.
Aulia : Beautiful.
Andin : Girl.
( Sambil menujukkan tanda persahabatan mereka yang berupa cincin )
Aldi : Oke deh.
( Sambil mengacungkan jempol )
Akhirnya persahabatan mereka bersatu kembali, dan tidak ada yang memisahkan mereka sampai akhir hayat menjemput.
Nama : WIKA PURI ASTUTI
NIM : 2009 112 070
Kelas : VI/B

DOA ISTRI TUKANG GORENGAN

Pagi ini aku bangun seperti biasanya, jam empat subuh. Semua penghuni rumah masih terlelap dalam mimpi mereka. Kusiapkan sarapan dan bekal makan untuk anak-anak yang akan sekolah. Seperti hari-hari biasanya sesudah beres urusan di rumah, aku pergi ke pasar tradisional untuk belanja keperluan dagangan suamiku. Suamiku seorang tukang gorengan yang mangkal di dekat terminal angkot .
Pasar sudah buka sejak pagi buta. Para pedagang yang berjualan di area parkir angkot sibuk melayani para pembeli yang kebanyakan para bakul yang akan berbelanja untuk dijual lagi di rumahnya atau dijajakan keliling. Kebanyakan para pembeli memang kaum hawa. Area parkir ini sampai jam enam digunakan untuk tempat mangkal para penjual sayur, buah, makanan kecil, bumbu, dll.
Aku mulai mencari barang yang akan kubeli. Karena suamiku penjual gorengan, barang yang kubeli adalah minyak curah, tepung terigu, tepung tapioka untuk campuran tepung terigu agar rasa gorengan lebih renyah dan kemeriuk, toge, wortel, kubis, daun bawang, ubi jalar, pisang uli, singkong, dan tentu saja tahu-tempe.
Ini dia masalahnya. Sesudah aku berkeliling mencari bahan-bahan tadi ternyata semua barang harganya makin naik saja. Sementara itu uang modal kami tetap sama, tidak bertambah. Wadoohh, opo iki, rek? Semua barang kok mahal.
Harga semua barang naik terus karena harga minyak dunia makin mahal. Begitu kata orang-orang. Katanya lagi bahan makanan ikut-ikutan mahal karena pengaruh minyak dunia dan juga karena global warming. Katanya sekarang lingkungan hidup makin kacau karena itu tanaman pangan pun kena akibatnya. Kan sekarang lagi ngetren global warming. Katanya lagi segala bencana yang terjadi di muka bumi ini gara-gara satu kata asing itu. Dan yang jelas semuanya itu ulah manusia begitu katanya. Kalau global warming ya itu sih tak begitu kupahami, tetapi kalau kekacauan ini ulah manusia itu sih setuju sekali.
Jadi semua orang harus mulai memikirkan bumi ini dengan berbagai cara. Salah satunya memperhatikan polusi yang dibuat oleh kendaraan yang berbahan bakar yang asalnya dari fosil. Sisa bahan bakar dari kendaraan yang berupa asap itu mengandung CO. Katanya lagi, gas itu semua menguap ke udara sampai sangat jenuh. Lha yang menyebabkan bumi makin panas dan gonjang-ganjing iki sajane sopo? Kami ini kan hanya wong cilik pembuat gorengan saja. Kami ndak ngerti apa itu global warming, tetapi yang kami rasakan bahwa hidup semakin sulit. Jadinya yang dikatakan dalam suluk dalang waktu wayangan kok jadi kenyataan, ya? Bumi gonjang-ganjing.
Lha, kula niku naming wong cilik. Bojone tukang gorengan, yang ndak pernah baca koran. Paling dengar berita dari tv, kata mbak penyiar yang ayu-ayu itu, memang segala sesuatu lagi tidak seimbang. Nah, itu dia akibat dari semua itu menimpa kami, keluarga tukang gorengan. Tentu saja aku tidak sendirian, itu sudah lama kutahu. Kami, wong cilik ini menjadi korban pertama dari semua situasi ini.
Tapi, yang mengherankan para penggede itu kok sepertinya tidak menyadari, apa lagi peduli pada keadaan ini. Mereka masih asyik dengan mainan masing-masing yang menghabiskan milyaran rupiah. Itu kata Mas Wahyu, mahasiswa yang jadi aktivis di kampusnya. Mas Wayu itu suka beli gorengan buatan suamiku tiap pagi sebelum kuliah.
Kalau menurut Mbak Ine, karyawati di sebuah pabrik benang, katanya memang kedaan negri kita tercinta itu sudah akut. Seperti lingkaran setan gitu katanya. Waduh, kok, ya menjadi tambah serem, ya? Tapi, walaupun tanah air kacau dan bumi makin panas pun, tukang gorengan seperti suamiku itu sangat dibutuhkan. Kenapa? Lha, semua orang dari kalangan dan kelas sosial apa pun suka gorengan, je! Mungkin aku ini ge-er karena bojone tukang gorengan. Tapi kenyataannya memang begitu kan? Coba siapa yang belum pernah makan gorengan di tanah air tercinta ini? Tukang gorengan itu setiap saat dibutuhkan. Pagi, siang, sore, bahkan malam hari pun masih ada yang mencari gorengan.
Nah, karena itu aku bingung, kok belanja ngubek-ngubek pasar Serpong, kok semuanya mahal. Aduh, alamat diprotes langganan ini namanya. Padahal, buruh pabrik benang itu sarapannya makan gorengan. Nanti makan siang lauknya juga gorengan. Belum lagi pelajar SMP-SMA yang naik angkot juga suka beli gorengan untuk ngemil sambil bercengkarama dengan temannya. Bahkan, ibu-ibu yang bekerja di kantor dekat suamiku mangkal itu, kalau istirahat suka borong gorengan. Bagaimana jadinya nanti. Padahal lagi, tempe tahu itu makanan favorit lho! Kata Bu Dokter di Puskesmas dekat kontrakanku, katanya sumber gizi masyarakat yang murah dan sehat. Tapi sekarang akan berubah. Waduhhh….
Karena sudah sudah siang, akhirnya kuputuskan untuk pulang ke rumah dengan belanja seadanya sesuai uang modal belanja. Kasihan Mas Karmin, akan diprotes langganannya karena harga gorengan tambah mahal. Kasihan anak-anak, uang sekolahnya akan telat lagi. Kasihan si bungsu, susunya akan tambah diencerkan dengan ditambah air banyak-banyak. Kasihan Pak Haji, uang kontrakannya akan nunggak lagi. Wah… kok, gara-gara harga minyak dan gombal warming tadi jadinya merembet ke mana-mana, ya.
Mas Karmin sudah membereskan perangkatnya. Berangkat dengan gerobaknya. Siap mangkal dengan bahan ala kadarnya. Mas Karmin orangnya jujur. Tak mau meniru temannya yang suka mencampur minyak lama yang rupane wis ora karuan dengan minyak baru. Katanya biar ngirit. Prinsip Mas Karmin itu namanya curang. Yen curang kuwi ora apik. Temannya juga mencemplungkan plastik bekas bungkus minyak ke dalam mimyak yang panas. Katanya biar gorengannya kemeripik. Mas Karmin tak mau melakukannya karena itu ora becik, dosa, meracuni pangan, hukumnya dosa. Mas Karmin adalah tukang gorengan yang paling kukagumi. Dia lelaki jujur. Dan tentu saja dia suami yang baik. Bagiku dia adalah lelaki lelanang jagat.
Aku mengantarkan Mas Karmin sampai pintu gang. Kembali ke rumah petak kami untuk beres-beres. Ini kulakukan pada saat semua sudah beres, duduk di tikar dan bersandar di tembok sambil menyelonjorkan kaki. Si Bungsu sudah tidur, kedua kakaknya sekolah, Mas Karmin masih jualan, dan pekerjaan rumah sudah selesai. Dalam diamku aku melipat tangan dan matur kepada yang Maha Kuasa:
Gusti Allah, Yang Maha Murah,
Segala barang di pasar tak ada yang murah
Harga tak bersahabat lagi
Ya Allah, Engkau yang menciptakan alam raya
Yang kaya raya
Bantulah kami untuk bertahan dalam situasi sulit seperti ini
Untuk memperjuangkan hidup yang sudah Engkau beri
Meski semua barang harganya mahal, tapi biarlah iman kami tetap kuat
Dagangan Mas Karmin tetap bisa laku agar kami bisa melanjutkan kehidupan kami
Ingatkan kami selalu untuk selalu memelihara iman di antara harga tepung, minyak goreng, sayuran, dan kedelai yang kian naik.
Engkau memahami kesusahan ini
Mohon kekuatanmu untuk supaya kami bisa melalui ini semua dengan sesantiasa mengucap syukur.
Biarlah harapan menjadi kekuatan bagi kami untuk senantiasa berjuang dengan penuh semangat. Amin.
Dalam diam dan tanganku yang terkatup aku melebur bersama semesta untuk sampai kepada yang Maha Tinggi melepaskan segala beban. Doaku mengambang dalam udara yang beraroma pengap, menembusnya dan menggelepar untuk sampai pada tujuanya. Aku duduk, meski dalam pengap, aku selalu punya harapan bisa melalui satu hari saja tanpa rasa khawatir. Hari esok tak perlu terlalu dirisaukan, tetapi perlu dipikirkan. Karena yang aku tahu risau tak menyelesaikan kesusahan.
Semoga dagangan Mas Karmin bisa cepat laku. Hari ini biar dia bisa cepat pulang dan istirahat.

Tugas Akhir


Nama : Arminiati
NIM    : 2009112207
Kelas  : VI.B

Cerpen
Jembatan Tak Kembali
Aku akan bercerita pada kalian. Bercerita tentang sebuah jembatan. Namanya adalah Jembatan Tak Kembali. Mengapa diberi nama demikian? Karena, setiap yang menyeberang di jembatan itu, tak akan kembali. Disergap oleh batas yang ada di seberang sana. Seberang yang berkabut. Dan berisi kesempurnaan.
Dan sebagai jembatan, maka Jembatan Tak Kembali adalah jembatan yang begitu indah. Kerangkanya berwarna merah. Punggungnya kuning keemasan. Sedangkan pagar pembatas samping kiri-kanannya seakan-akan selalu berputar pelan. Seperti berputarnya jarum jam yang bunyinya begitu halus. Deg-deg-deg surrr.
Tapi, meski tak kembali, selalu saja, hampir tiap saat ada yang menyeberangi jembatan itu. Dan si penyeberangnya berasal dari sekian kalangan yang berbeda. Baik berbeda umur, status, atau kepandaian. Dan rata-rata, mereka selalu menampakkan wajah yang ceria. Penuh harap. Dan gelora.
Bahkan, jika kalian saksikan, selalu saja ada di antara mereka (yang menyeberang itu) bernyanyi. Terutama bernyanyi tentang apa-apa yang membuat semua nafsu buruk memadam. Berganti dengan seribu genta mungil yang melayang-layang. Genta mungil yang berdenting. Seperti denting sebaris mantra. Mantra tentang sorga yang dicinta. Sorga yang ketemu lagi.
Dan sorga yang akan membuat mereka mencapai tingkat yang tiada tara. Tingkat, di mana, apa yang mereka sandang akan menjadi sempurna. Dan menjadi sesuatu yang menurut kabar yang ada, mencapai titik yang tak terjabarkan lagi. Misalnya, yang pintar masak, akan dapat memasak tanpa kompor. Yang pintar silat, akan bersilat tanpa bergerak. Dan yang pintar berlari, akan berlari tanpa mengenal tenaga.
”Hoi, berilah kami kelancaran untuk menyeberang!”
”Hoi, juga kelancaran agar tak terperosok!”
”Hoi, juga keteguhan diri!”
Tentu saja, meski mereka menyebut: ”Hoi!,” tapi nada suara mereka bukanlah nada yang memaksa. Sebaliknya, penuh ketulusan dan kerendahan hati. Ibarat sebuah lautan yang biru dan dalam, betapa, betapa tenangnya nada suara mereka. Dan ibarat gunung yang menjulang, betapa, betapa, sampainya puncak gunung itu ke langit lapis ketujuh.
Langit yang di semua sisinya begitu meluas dan makin meluas. Seperti tak ada lagi makhluk yang sanggup mengukurnya. Meski itu cuma di dalam pikiran dan khayalan. Pikiran dan khayalan yang sanggup untuk menulis sekian ribu halaman buku. Buku yang berisi tentang semua pengetahuan yang pernah ditemukan dan yang akan ditemukan.
”Ayo, kita menyeberang. Sampai jumpa ya!”
”Yup, kita menyeberang bersama-sama!”
”Siap! Ayo berangkat!”
Dan mereka (yang menyeberang itu) pun menyeberanglah. Dan rasanya, ketika kaki mereka menjejak di punggung jembatan, pun menjelma semacam langkah-langkah sebuah tarian. Langkah-langkah yang gemulai. Ke kiri, ke kanan. Indah dan memesona. Mungkin, jika saja langkah-langkah itu berada di atas panggung, tentu akan menjadi sebuah pertunjukan yang serasi, kompak, dan menggetarkan.
Sedangkan bagi yang melihatnya. Yang berada di pingir-pinggir, dan yang tak ikut menyeberang, cuma bisa melambai. Sambil tetap mengarahkan pandangannya tanpa berkedip. Di hati mereka, pun penuh dengan doa. Doa yang bermuara pada satu harap: ”Cepat atau lambat, kami segera juga menyeberang. Menyusul mereka. Menyusul untuk mencapai kesempurnaan. Tunggu saja.
Hmm, itulah ceritaku tentang Jembatan Tak Kembali. Sebuah cerita yang penuh teka-teki. Kenapa? Karena aku yakin, kalian pasti akan bertanya: ”Jika mereka yang menyeberang itu telah sampai di seberang jembatan. Di tempat yang berkabut dan berisi kesempurnaan, lalu apa yang dilakukannya? Apakah mereka menjadi puas? Atau ada hal lain yang perlu untuk juga diceritakan di sini?”
Ahai, pertanyaan yang bagus. Pertanyaan yang memang aku nanti. Dan jujur saja, ternyata, ketika telah sampai di seberang, dan memperoleh kesempurnaan yang diharapkannya itu, mereka memang menjadi lain. Apa yang mereka sandang telah mencapai pada titik yang tiada tara. Tak terjabarkan. Semuanya hanya tinggal dipinta dan diucapkan. Langsung tersedia. Dan langsung bisa untuk direngkuh.
”Aku ingin berlari ke bukit!” maka sampailah mereka ke bukit. Atau ”Aku ingin merasakan masakan paling nikmat!” pun langsung tersedia. Dan itu membuat mereka bahagia. Dan membuat mereka untuk terus-terusan mengucapkan ini-itu yang beragam. Ini-itu yang membuat mereka cuma berada di tempat. Tak bergerak. Sebab, buat apa mesti bergerak, jika apa yang diinginkan selalu tersedia di hadapan. Tersedia dalam aneka ragam yang dapat disesuaikan.
Jadinya, karena kelamaan tak bergerak, pelan-pelan mereka pun menjadi terdiam. Hanya mata mereka saja yang kedap-kedip. Mata yang begitu sempurna dan layak untuk disebut sebagai mata yang bulat, bundar, dan penuh ketenangan. Mata yang kini tampak tak lagi memikirkan bagaimana cara mengasah apa yang disandangnya.
Ya, mereka kini bukan lagi sebagai pengejar dari apa yang mesti dikejar. Sebaliknya, mereka jadi sebagai si pendiam. Si pendiam yang tak lagi menginginkan apa-apa. Sebab, apa yang mesti diinginkan, jika semuanya begitu mudah untuk terwujud dan tercapai? Dan begitu mudah untuk dibentuk hanya dengan sebuah ucapan? Dan rasa-rasanya, tanpa mereka sadari tubuh mereka pun mulai mengeluarkan serabut.
Serabut halus. Serabut yang entah apa warnanya. Tapi begitu berkilau. Dan begitu menerangi tempat di mana mereka berada. Dan saking terangnya, apa-apa yang bergeriapan di sekeliling mereka pun terlihat. Apakah itu yang terbang, merayap, berguling, atau hanya sekadar terpaku tak bergerak. Semuanya terlihat. Dan semuanya seakan-akan memang begitu bahagia hanya untuk dapat terlihat.
”Akh, aku tak jadi menyeberang deh!”
”Loh?”
”Iya. Jika akhirnya cuma seperti itu, terus buat apa.”
Ya, ya, itu adalah perkataan Jose di pagi ini. Perkataan yang mungkin kesekian kalinya. Dan memang perlu kalian ketahui, Jose adalah satu-satunya orang yang kerap membatalkan niatnya ketika akan menyeberangi jembatan.
Padahal, jika boleh aku bercerita pada kalian, semua yang ada di diri Jose sudah mumpuni. Dan layak untuk mencapai kesempurnaan. Lain itu, barangkali, hanya Jose-lah yang telah digadang-gadang oleh semua orang untuk segera menyeberang.
”Tapi, siapa nanti yang akan memberi makan kucing-kucingku?” sergah Jose.
Kucing? Astaga, inilah alasan sejak dulu yang mengganjal diri Jose untuk menyeberang. Alasan untuk memberi makan kucing-kucingnya. Dan kini, kucing-kucing Jose tidak lagi lima atau enam ekor. Tapi mungkin hampir lima puluh ekor. Dan setiap pagi, siang, dan sore selalu diberinya makan.
”Kucing-kucingku butuh makanan yang layak?” begitu tambah Jose, ”Sebab kucing-kucingku itu hampir tiap malam mengejari tikus-tikus. Tikus-tikus yang gemar merusak setiap apa yang ada di kampung. Dan kalian tahu jugakan, tikus-tikus yang merusak itu, kini semakin banyak. Gemuk-gemuk. Dan ngawur-ngawur. Bahkan, saking ngawurnya, di siang bolong pun berani merusak juga. Seperti sudah tak ada lagi yang ditakuti.”
”Terus, kapan kau akan jadi sempurna?” tanya seseorang.
”Aduh, biarlah tak jadi sempurna. Asalkan kucing-kucingku masih dapat aku urus.”
Dan seperti yang sudah-sudah, Jose pun kembali meninggalkan pinggir Jembatan Tak Kembali. Semua orang memandangnya. Semua orang melongo. Dan seperti pendekar dari dunia antaberantah, kucing-kucingnya pun mengintil. Kucing-kucing yang lucu. Kucing-kucing yang tangkas. Dan kucing-kucing yang membuat orang yang melihatnya jadi gemas.
Bagaimana tidak gemas, kucing-kucing itulah yang kerap mengganggu mereka ketika sedang makan. Atau sedang enak-enak tidur. Sebab, tingkah laku dan suara ngeongnya demikian keras dan memekak. Apalagi jika sudah memasuki musim kawin. Ck ck ck kampung pun seakan-akan berubah menjadi panggung simponi yang ribut. Simponi yang sering membuat genting-genting bergeser.
Jose, Jose, ya, itulah nama orang yang tak mau menyeberangi Jembatan Tak Kembali. Jembatan untuk memperoleh kesempurnaan. Hanya karena tak mau meninggalkan kucing-kucingnya. Dan karena ketakmauannya itulah, banyak orang di kampung yang membicarakannya. Ada yang bangga. Ada yang cuek. Dan ada pula yang diam-diam menyebut Jose sebagai si aneh.
Si aneh yang lebih suka memberi makan kucing-kucingnya daripada mengejar kesempurnaan hidupnya. Dan mereka yang diam-diam menyebut Jose sebagai si aneh ini, semakin lama, semakin bertambah. Dan siasat pun mulai mereka gariskan. Yaitu, bagaimana caranya agar kucing-kucing Jose dapat berkurang.
Mulailah mereka mencuri kucing-kucing Jose. Yang kuning. Yang coklat. Yang hitam. Yang putih. Dan yang kelabu pun dicurinya. Dimasukkan ke dalam karung dan dibuang ke luar kampung. Sampai akhirnya, kucing-kucing Jose habis. Dan Jose pun kelimpungan. Dan Jose pun menjadi sedih. Setiap waktu, setiap saat, kerjanya cuma mencari kucing-kucingnya yang hilang.
Dan di antara rasa sedih dan mencari inilah, mereka yang telah mencuri kucing-kucing itu, berkata pada Jose: ”Jose, percayalah, kucing-kucingmu itu telah menyeberangi Jembatan Tak Kembali. Menyeberangi secara diam-diam.” Tapi anehnya, sejak perkataan ini terlontar, sejak itu pula sosok Jembatan Tak Kembali pun jadi menghilang. Tak berjejak. Seperti ditelan kegaiban.
Dan tikus-tikus, yang kini tak lagi punya penghalang itu, pun segera merajalela di kampung!
















Puisi

Sujud Ku

Bersimpuh aku di hadapan- Mu
Meminta segenap keridhoan- Mu
Berkata ku dalam do’a memohon pada- Mu
Mengakui segala kelamahan ku
Menggorek semua dosa
Berharap siraman deras ampunan- Mu
Ya Robb….
Dalam sujud ku pinta kepada- Mu
Sedikit sekali yang ku ingin
Dalam segenap kuasa- Mu.


Karya : Arminiati (2009112207)
Kelas : VI. B






Drama
Patung Kekasih


PEMATUNG MUDA
PEMATUNG TUA
SRINTIL
WANITA PERTIWI
KACUNG

BABAK I

Studio seorang pematung.
Sesuatu pemandang yang tak selesai: beberapa peralatan disebuah pojok, beberapa patung jadi dan beberapa patung lainnya yang terbengkalai, tata warna kusam – namun siap untuk menggalami perubahan setiap saat. Menuju keremangannya, dari arah depan lurus panggung, muncul perlahan-lahan Wanita Pertiwi. ( entrance ) Kostumnya, rambutnya yang panjang bergerai, matahari wajahnya dan ruh yang menjadi rahasia matanya, serta keseluruhannya — memancarkan alam. Pada sebuah kursi, di pusat panggung, ia berhenti dan duduk menghadap punggung panggung. Ia mematung, tetapi seseorang akan menjadi sangat dungu apabila berani menyangganya sebagai benar-benar patung.

Tiba-tiba, muncul dari stu sudut panggung, Pematung Muda. (entrence) Pematung Muda baru berani sedikit mencuri pandang ke Wanita Pertiwi tatkala sudah berada ditempat yang terbebas dari wajah Wanita Pertiwi.

PEMATUNG MUDA
Pasti saudara-saudara menyesal kenapa ia tidak menghadapkan wajahnya kearah saudara-saudara!tapi justru bersyukurlah, karena apabila sempat saudara-saudara menatap matahari wajahnya serta roh yang menjadi rahasia matanya saudara-saudara akan tiba-tiba menjadi penyair!
Lihatlah : ia duduk mematung.
Tetapi seseorang akan menjadi sangat dungu apabila berani menyangganya sebagai benar-benar patung.
Ia, untuk waktu seperti yang tak terbatas, diam saja menatapi ruang hampa, dan sekedar seserpih senyumannya saja cukuplah untuk menyodorkan segala nomer musik, puisi, kembang, atau langit semesta, yang membuat kita tergagap karena merasa terkepung.
Hm. Edan! Saudara-saudara tahu sendiri: sayapun telah menjadi seorang penyair remaja!

Tiba-tiba terdengar benturan kecil dua benda keras. Pematung muda bergeser ke satu sisi yang aman. Ternyata Pematung Tua muncul dengan membawa alat pahat. (entrance)
Seperti tak ada siapa-siapa diruangan itu, ia mondar-mandir, tanpa kata, seperti mempersiapkan sesuatu. Kemudian terbatuk-batuk, dan hilang kebalik panggung. (exit)
Pematung Muda meruang lagi. Langkah gontai. Gerak-gerik kurang menentu. Wajahnya memancarkan banyak hal sekaligus : gairah dan cita-cita amat tinggi, keputusasaan, apatisme.

PEMATUNG MUDA
Baiklah. Supaya saya tidak dianggap pencuri disini sebaiknya saya memperkenalkan diri.
Saya: seorang pematung. Paling sedikit: calon pematung. Atau kalau masih terasa masih kurang jujur: minimal cita-cita saya adalah menjadi seorang pematung.
Tetapi hal ini langsung menyangkut satu hal yang amat menjadi beban hidup saya, bahkan menindih kepal saya dari hari ke hari.
Yakni bahwa penghalang utama cita-cita saya itu adalah Bapak saya sendiri : seorang pematung terkenal yang saya amat benci sekali:

Memang sama sekali tidak enek kedengarannya tapi lebih tidak sedap lagi untuk mengalaminya: sakit, perih, merangsang rasa putus asa.
Maaf saudara-saudara kalau saya mengeluh tetapi yakinlah bahwa saya bukan anak durhaka yang suka menceritakan keburukan-keburukan Bapak sendiri: seorang lelaki yang filsafat hidupnya bejat, yang moralny moral ayam, air ludahnya terdiri dari ramuan lender borok dan air kencing setan, yang eksploitator! Yang penindas!—
Tidak saudara-saudara. Saya bukan anak didik iblis meskipun kata-kata saya memang mengandung nyala api.

Akan tetapi cobalah, cobalah pandang Wanita Pertiwi ini!cobalah pandang baik-baik. Saya akan sangat kagum pada saudara-saudara, sebab saya sendiri tak akan pernah berani sedetikpun menatapnya. Bahkan rasanya sejak beribu tahun yang lalu dan sampai abad-abad yang akan dating, tetap saya tak akan tak kecut memandangnya.
Maafkan kalau saya memakai kata-kata yang biasanya diucapkan oleh mulut para penyair. Tapi yakinalah bahkan Shakespeare dan Darmawulan tak kan mampu menciptakan puisi yang keindahnnya bias menandingi keagungan Wanita Pertiwi ini.
Cobalah pusatkan diri saudara-saudara, bulatkan roh dan mantapkan sukma. Kalau pikiran saudara-saudara sedang berlari kesana kemari, cobalah tarik kembali. Kalau sukma saudara-saudara sedang pecah dan tercecer-cecer, himpun kembali ia. Kemudian siapkan seluruh kebulatan dari saudara-saudara untuk menatapnya! Dan menerima anugrah dari keagungannya! Ayo coba, coba…

Tanpa sepengetahuan Pematung Muda, Wanita Pertiwi bangkit pelan-pelan, dan beringsut pergi, lenyap kebalik panggung. (exit) (dalam suatu progresi yang amat lembut).

PEMATUNG MUDA
Cukup saudara-saudara! Cukup! Jangan terlalu lama memandangnya, supaya terhindar dari akibat-akibat yang bisa berbahaya!
Sekarang, anggap ia tak pernah ada. Saya berdoa kepada Tuhan, semoga saudara-saudara diperkenankan sungguh-sungguh mengetahui apa yang sebenarnya duduk dengan anggun ini. Soalnya, terus terang saja, bahkan para Malaikat belum tentu mampu melukiskan keindahnya.

O ya – saya akan membuka sebuah rahasia! Tapi jangan bilang-bilang. Saudara-saudara, pengarang naskah lakon ini diam-diam menuliskan suatu gambaran tentang Wanita Pertiwi ini, tetapi tidak dipaparkan kepada kita.
Mungkin karena ia merasa cemburu, atau paling tidak ia pasti ingin memonopoli keindahan yang maha dasyat ini buat dirinya sendiri.
Itu biasa tidak ada seniman yang tak egois. Tapi dengarlah, saya akan buka kedoknya! Begini saudara-saudara, pengarang yang tak kawin-kawin itu , melukiskan dengan hati berdebar-debar:

“ Seluruh butir-butir keindahan dunia dan umat manusia, yang dikandung oleh sejarah, ruang dan waktu. Jika digabung menjadi satu keutuhan – maka separohnya cukup diwakili oleh sinar wajah Nabi Yusuf, dan separohnya lagi oleh rahasia yang dikandung Kekasih kita ini!
Seluruh alam semesta, berpusat dipancaran matanya
Segala macam model cinta kasih, tumpah dipangkuan sikap diamnya.
Dan segala jenis kekuatan lelaki, menjadi loyo dikelingking jari tangannya!” (tertawa)
Saudara-saudara, bayangkanlah betapa pubernya pengarang kita ini!
“ Inilah! – demikian katanya lebih lanjut, jenis wanita yang sering menbuat gagap setiap lelaki di hadapanya. Karena apabila tersenyum, maka senyumnya tidak untuk lelaki, tapi untuk dunia!
Jika matanya sedikir mengerling : awan-awan dilangit akan sangat kaget, sehingga tumpahlah hujan dan basahlah bumi!
Jika dagunya terangkat sedikit, gunung-gunung akan segera merundukan mukanya. Gunung yang lama mati mendadak hidup kembali, dan gunung yang telah berapi, segera kehilangan diri, memuncratkan lahar panasnya berulang kali!
Jika wanita ini mengundang ia tak mempersilahkan.
Dan jika ia menantang ia tak menyediakan pelayanan…..”
Bayangkan --- saudara-saudara, demikianlah puisi sang pengarang, yang penuh dengan kata-kata muluk yang menggelikan hati, tetapi bisalah dimuat di kolom-kolom remaja Koran local kota ini.
Setengah mati ia berusaha melukiskan keindahan ini padahal semua orang cerdik pandai bersepakat bahwa keindahan yang sejati, tak sepatutnya dilukiskan, dengan cara apapun –
Karena puisi-puisi, lukisan, nyanyian, patung semuanya hanya palsu belaka! Semuanya hanya mencerminkan ketololan senimannya! – dan inilah saudara-saudara, sumber utama kebencian saya kepada bapak saya!
Ini soal prinsip!

Tiba-tiba (entrance) tiga Kacung berbaris resmi , training, suatu komedi robot-robot, melintas panggung, (exit).

PEMATUNG MUDA
Saya ulangi saudara-saudara: ini soal prinsip. Mematung itu bukan bagaimana membikin pating. Bukan mengalihkan keindahan atau menirunya. Sebab keindahan sejati tak bisa ditiru atau dialihkan.

Bikin patung itu bukan memahat sesosok kematian, bukan menciptakan benda mati untuk dijual. Mematung itu suatu pekerjaan untuk bergabung kepada denyut hidup sebuah keindahan.

Dan Wanita Pertiwi ini bukan seorang model, yang akan diterjemahkan menjadi benda mati, melainkan sumber cinta kasih, dan merupakan tempat kembalinya segala pengembaraan cinta kasih itu.
Patung sangat mendekatkan kita pada kematian sedang cinta kasih adalah sukma kehidupan, dan kita berada ditengah-tengahnya, penuh tantangan dan jebakan.
Saudara-saudara, saya berani bertanding melawan Bapak saya dalam mengerjakan keindahan ini.

Tetapi saya tidak punya hak apa-apa, Bapak adalah pemilik tunggal dari Wanita Pertiwi ini.

Saya sangat bersedih, karena perbedaan utama saya dengan bapak saya ialah bahwa saya tidak pernah menganggap Wanita Pertiwi ini sebagai kuda tungganan atau tambang emas yang bisa diserap atau diperas.

Tidak! Ia terlampau indah untuk diperlakukan begitu! Bahkan saya bersedia untuk tak usah menjadi pematung asal saja diperkenankan untuk menunjukan iktikad baik dan cinta kasih saya, dengan cara mencium keningnya sepanjang masa….

Tapi jangan khawatir, saya tidak akan pernah berani sungguh-sungguh menciumnya – tapi saksikanlah saya, dengan penuh gempa bumi dalam dada, akan mencium tanah di depan telapak kakinya…

Pematung Muda bergeser mendekati tempat Wanita Pertiwi, tanpa menatapnya, bersujud mencium tanah didepannya tapi segera sadar bahwa Wanita Pertiwi hanyalah bayangannya.

PEMATUNG MUDA
Maaf saudara-saudara, kenapa saudara tidak bilang bahwa Wanita Pertiwi ternyata tak ada disini?!...
Uh! Pastilah saya nampak seperti orang gila. Tapi saudara-saudara tentulah tahu juga: kalau saya melamun, mimpi, itu pasti dasyat juga maknanya!
Bagi orang yang pernah mengalami kepalsuan-kepalsuan kenyataan, pasti akan berpihak kepada mimpi juga!....



PEMATUNG TUA
Kacung! Bawa dia kemari!
Suara dan kehadirannya memotong kegiatan Pematung Muda. (entrance) Membawa beberapa alat path, munculnya Pematung Tua diwarnai oleh gerak-gerik yang amat mengacuhkan Pematung Muda. Bahkan kemudian ia menatapnya saja dengan angkuh sampai anaknya ini beringsut pergi dengan melayani keangkuhan itu.
Pematung Muda exit.
PEMATUNG TUA
Kacung! Apa perlu kupanggilkan Dokter Telinga!

KACUNG (suaranya)
O ya ya Tuan….
PEMATUNG TUA
Ya ya apa!
KACUNG (suaranya)
Dokter Telinga …eh….
PEMATUNG TUA
Bangsat tengik komunis kamu! Kemari!
KACUNG (tiga orang)
Siap Tuan! (berbaris, entrance)
PEMATUNG TUA
Apa kuperintahkan tadi!?
KACUNG (salah seorang)
Bawa dia kemari!
PEMATUNG TUA
Kurang keras!

KACUNG
Bawa dia kemari!!!
PEMATUNG TUA
Bagus. Laksanakan!
KACUNG
Siap Tuan! (exit)
PEMATUNG TUA (kesudut lain dari ruang, melakukan persiapan untuk bikin patung)(tiba-tiba melihat dua kacung masih berdiri di pojok seperti robot mati)
kalian berd….
KACUNG (bersama)
Siap Tuan!
PEMATUNG TUA
Dengarkan dulu sampai aku…..
KACUNG (bersama)
Siap Tuan!
PEMATUNG TUA
Baik. Baik. Kau, hapalkan Undang-undang Dasar Perpatungan Nasional….
KACUNG (salah seorang)
Siap Tuan! Bahwa kemerdekaan adalah hak segala pematung…..
PEMATUNG TUA
Diam tolol! Jangan dihafalkan disini. Disana! Di belakang! Dekat WC!
KACUNG (salah seorang)
Siap Tuan! (exit)
PEMATUNG TUA
Dan kau! Hapalkan A-B-C-D!
KACUNG
Siap Tuan! Dekat WC!
PEMATUNG TUA
Cepat pergi! (meneruskan kegiatannya)

Dalam kegiatan tanpa kata itu menjadi keliahatan wajah dan perwatakan Pematung Tua yang sukar diduga dan mengandung berbagai kemungkinan nilai.
Muncul Kacung (yang pertama), bersama Wanita Pertiwi dan Srintil, gadis yang lugu tetapi memperlihatkan potensi kecerdasan tertentu.
KACUNG (keras dan resmi)
Laporan! Dengan ini saya melaksanakan tugas dari pada saya membawa wanita model daripada Tuan. Bersama seorang putrid daripada wanita itu Sekian laporan daripada saya
Selesai!
PEMATUNG TUA
Bagus. Cepat mundur sana!
KACUNG
Siap Tuan! (berjalan mundur, exit)

Sesudah itu terhadap Wanita Pertiwi, sikap dan nada prilaku Pematung Tua, adalah lain sama sekali. Kelembutan dan kembang memancar dari setiap katanya.


PEMATUNG TUA (kepada Wanita Periwi)
Setiap kali berada dihadapanmu, aku merasa kata-kata yang muncul dari pikiranku selalu agak kurang tepat dan tidak sopan. Namun terhadap sesosok keindahan seperti ini haruslah diucapkan: selamat datang, kekasih!

Wanita Pertiwi tak bergeming, Srintil menunjukan desah dan gerak-gerik yang tidak menyukai hal itu.
PEMATUNG TUA
Semoga hari ini keberuntungan bersamaku karena para malaikat pastilah membantu.
Kekasih, silahkan duduk.
Kursi ini buruk, tetapi segera akan menjadi indah begitu engkau menyentuhkan tubuhmu diatasnya!
WANITA PERTIWI (tersenyum kecil dan mahal, tak bergerak)
SRINTIL
Ibuku yang pertiwi, marilah duduk akulah yang akan melihat apakah dibawah kursi itu, terdapat seekor ular berbisa.
(membimbing Wanita Pertiwi)
PEMATUNG TUA (tertawa)
Putrimu ini sangat cerdas, semua manusia memang membenci ular berbisa. Tetapi berkat kecerdasannya, manusia juga yang akhirnya mengerti, bahwa ular berbisa adalah segala lambang segala ilmu obat-obatan dan lambang segala kesehatan dan kebahagiaan.
SRINTIL
Ular berbisa usapan lidahnya amat lembut sehingga lenyaplah kesadaran kita untuk mengetahui bahwa antara kebahagiaan dan malapetaka, hamper tak ada bedanya.


PEMATUNG TUA
Bagus, bagus, anak manis! Kulihat engkau sangat peka terhadap nasib Ibumu, maka sesungguhnya tidaklah ada perbedaan pendapat di antara kita: kita sama-sama mengasihinya!
Hmm. Bagaimana aku harus memanggilmu?
SRINTIL
Tuan tidak harus memanggilku!
PEMATUNG TUA
Anak yang manis – maksudku siapa namamu?
SRINTIL
Namaku tidak penting untuk Tuan. Maupun untuk diriku sendiri!
PEMATUNG TUA
Bukan main! Engkau bukan sekedar berkepal batu, tapi kuduga seluruh isi kepalamu itu memang terdiri atas tumpukan batu-batu.
SRINTIL
Untuk semboyankan kepala ular, anak-anak kecil biasa memakai bongkahan batu.
WANITA PERTIWI
Srintil: sudahlah.
PEMATUNG TUA
O, tak apa-apa – He? Srintil namamu! Dengar! Bagiku segala sesuatu adalah kekasih hati juga setiap mata yang seolah-olah menyakitkan hati! (beralih kepada Srintil) Anak manis buah kekagumanku! Jika nama tidak penting bagi kita maka tunjukanlah hal yang sekiranya bisa kau anggap penting.


SRINTIL
Ialah, kehadiranku disini menyertai Ibuku yang Pertiwi Dihadapan kelembutan Tuan yang ganas!
WANITA PERTIWI
Anakku! Sudahlah.
PEMATUNG TUA
Hmm. Srintilmu yang centil ini bagaikan matahari di waktu fajar, ia akan muncul dengan cahaya cemerlang tetapi kini masih di bungkus oleh kabut yang remang.
Segala kesan dan bayangannya terhadap diriku dianggapnya seakan-akan merupakan kenyataan, sehingga lahirnya sikap-sikap yang menantang.
Namun, percayalah, itu tak akan jadi persoalan, sebab aku senantiasa bersedia memaafkan.
SRINTIL
Akulah yang tak akan bersedia memaafkan, jika apa yang ku kawatirkan benar-benar akhirnya menjadi kenyataan.
PEMATUNG TUA
Engkau memang tak perlu menyediakan pemaafan. Karena tak akan ada hal-hal yang perlu dimaafkan.
SRINTIL
Demikianlah cara seekor ular berbisa meletakkan perangkapnya!
PEMATUNG TUA
Engkau, anak manis, benar-benar masih perawan.


WANITA PERTIWI
Semuanya! Sudahlah. Pekerjaan kit asekarang ini bukanlah untuk saling berpantun-pantun. Tuan sebagai pematung yang berpengalaman tentulah tahu bagaimana tak menghambur-hamburkan waktu.
PEMATUNG TUA
O, pasti, pasti, kekasih….
SRINTIL
Hanya pematung picisan yang suka memurah-murahkan kata kekasih-kekasih-kekasih….
PEMATUNG TUA
Cinta kasih sangatlah luas wilayahnya, kuharap engkau mampu melihatku tida sebagai pemuda puber yang silau matanya….(Srintil tertawa) Tapi baiklah, segera kita mulai pekerjaan ini! (ancang-ancang dengan mengambil jarak dari Wanita Pertiwi, manatapinya, memandanginya) Aku rasa – ruangan ini memerlukan konsentrasi.
SRINTIL
Maksud Tuan?
PEMATUNG TUA
Ruangan ini memerlukan keutuhan Artinya, di sini tak perlu ada hal-hal yang kurang perlu, yang bisa mengurangi keutuhannya.
SRINTIL
Tuan mengusirku?
PEMATUNG TUA
Sama sekali tidak. Tetapi syarat pertama segala kesenian dan keindahan adalah keutuhan.

SRINTIL (sinis)
Ternyata kesenian bisa menjadi tiran.
PEMATUNG TUA
Itu tergantung cara memandangnya.
SRINTIL
Relative, begitu!
PEMATUNG TUA
Tepat.
SRINTIL
Relativ. Relatifitas. Itulah tirani nyata atas kehidupan manusia.
WANITA PERTIWI
Engkau menjadi mulia dengan mengalah, nak.
SRINTIL
Brengsek. Dari semula aku tak sependapat Ibu berurusan dengan pematung macam ini.
Wataknya nggegirisi. Kalau dipilih, ia segera menjadi pemerintah yang mencelakakan kita!
(exit).